Selasa, 04 Maret 2008

Ponsel Bikin Kanker Kelenjar Ludah?

TEL AVIV, SENIN - Bila Anda termasuk orang yang sering menggunakan ponsel secara berlebihan, sebaiknya berhati-hati. Menurut sebuah penelitian terbaru di Israel, pengaruh radiasi akibat penggunaan ponsel yang berlebihan berpotensi menyebabkan kanker kelenjar ludah.

Indikasi terbaru akan pengaruh buruk ponsel, terungkap melalui hasil penelitian yang melibatkan sekitar 500 orang Israel yang mengidap kanker. Dalam penelitian ini, data penggunaan ponsel para partisipan dianalisis dan dibandingkan dengan 1.300 pemeriksaan kesehatan.

Dari hasil analisis, partisipan yang biasa memakai ponsel dengan menempelkannya di satu sisi kepala selama beberapa jam tercatat 50% berisiko lebih besar mengidap kanker kelenjar ludah. Riset mengenai pengaruh ponsel ini dipublikasikan dalam The American Journal of Epidemiology.

Penelitian tentang pengaruh ponsel memang sudah banyak dilakukan dan kebanyakan selalu memusatkannya pada risiko mengidap penyakit tumor. Dan tak jarang di antara riset tersebut tidak menemukan hubungan signifikan antara radiasi ponsel dengan risiko mengidap kanker.

Menurut peneliti di Tel Aviv University, penelitian-penelitian tersebut cenderung selalu terfokus pada tumor otak, dan seringkali tidak mengujinya untuk penggunaan jangka panjang.

Kanker kelenjar ludah adalah jenis penyakit dengan prevalensi sangat rendah. Inggris misalnya, dari 230.000 kasus kanker yang ditemukan setiap tahunnya, hanya 550 kasus saja yang berhubungan dengan jenis yang satu ini.

Dr. Siegal Sadetzki yang memimpin riset ini mengatakan penggunaan ponsel di Israel tercatat lebih tinggi ketimbang negara lain di dunia. Fenomena ini memberikan keuntungan bagi riset karena peneliti dapat memantau pengaruhnya untuk jangka panjang atau pun dampak kumulatif yang akan terjadi.

"Dibandingkan dengan penelitian lain, jumlah paparan pada radisi frekuensi radio yang kami pantau di sini lebih tinggi. Jika Anda mau, Anda akan melihat apa yang terjadi di mana pun lebih cepat terjadi di Israel," ungkapnya.

Salah satu temuan kunci dari penelitian ini adalah penggunaan ponsel yang tinggi di wilayah pinggiran atau pedesaan ternyata memiliki dampak risiko lebih tinggi ketimbang di kota. Hal disebabkan fakta bahwa penggunaan ponsel di area dengan sinyal lemah butuh pancaran radiasi yang lebih kuat supaya ponsel dapat berfungsi.

Namun Dr Sadetzki menekankan, satu penelitian saja tidak cukup untuk membuktikan suatu hubungan sehingga penelitian lanjutan perlu dilakukan. Meski demikian, hingga bukti-bukti baru ditemukan, lanjutnya, pendekatan yang bersifat pencegahan tetap merupakan yang terbaik khususnya dikaitkan dengan penggunaan ponsel pada anak-anak.

Walau temuan baru dari Israel ini menunjukkan adanya dampak signifikan, sebuah penelitian terbesar dan terpanjang tentang ponsel lainnya justru tidak menemukan adanya peningkatan risiko jenis kanker apapun.

Penelitian tersebut melibatkan 420.000 orang di Denmark, yang telah menggunakan ponsel selama kurang lebih 10 tahun. Dari riset itu terungkap fakta bahwa kasus kanker ternyata lebih rendah dari yang diperkirakan untuk ukuran riset sebesar itu. Hal itu juga mengindikasikan bahwa ponssel tak memiliki dampak pada perkembangan tumor.

Mayoritas Umat Islam Tak Paham Al Qur’an

BUKAN rohaniwan, bukan pula guru agama, tapi Prof Dr Ir HM Amin Aziz (72) ’bisa’ menyatakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak memahami ayat-ayat Al Qur’an.

“Bahkan, memahami Al-Fatihah pun tidak. Padahal, kekuatannya sangat dahsyat,” tutur Pakar Sosiologi dan Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang menjelang bedah buku The Power of Al-Fatihah karyanya di Jakarta, Minggu 2 Maret 2008.

Dengan memahami Al-Fatihah, umat terbantu dalam memahami Al Qur’an. “Saya melakukan survei di berbagai masjid di Jakarta dan Bogor. Hasilnya, dari 1.500 responden, 70-80 persen umat tidak mengerti dan memahami betul Ayat-ayat yang dibacanya. Mereka cuma menghafal,” bebernya.

Prof Amin mengaku terdorong menulis buku ini, karena prihatin mencermati kondisi kehidupan sosial umat Islam, terutama kualitas iman dan ibadahnya yang relatif kurang memadahi. Konsekuensinya, umat Islam demikian kesulitan menjadi orang mukmin (berakhlak mulia).

Ia mengungkapkan, banyak umat fasih mengucapkan Allahhu Akbar, namun tidak mampu menunjukkan lewat sikap dan perbuatan yang mengagungkan asama Allah. “Saya melihat perlu perubahan total pada cara memahami agama. Ada kesalahan fatal dalam pendidikan agama,” tegas pria kelahiran Lhokseumawe, 17 Desember 1936 ini.

Amin meyakini, dengan memahami Al Qur’an secara benar, cita-cita umat Islam menjadi umat pilihan Allah, meraih kemenangan, damai dan sejahtera serta menjadi rahmat bagi sekalian alam, akan tercapai.

Buku The Power of Al-Fatihah yang disusun Akhmadi Taha ini terdiri delapan bab, membahas Al-Fatihah ayat demi ayat. Tebalnya hampir 700 halaman. Ketika dibedah di Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Jawa Tengah, buku ini dijadikan buku wajib oleh rektor perguruan tinggi tersebut.

Prof Amin Aziz selama ini dikenal sebagai penggagas Bank Muamalat. Ia meraih gelar MSc Sosiologi Pedesaan di Uniuversity of the Philillone, Los Banos, Filipina, 1974 dan meraih gelar PhD Ekonomi Pertanian di Iowa State University, Amerika Serikat, 1978 silam. (ant

Senin, 03 Maret 2008

Apa Itu Tasawuf?

TASAWUF atau Sufisme adalah sebuah jalan bagi orang-orang yang ingin mencapai Sang Wujud, al-Haq. Artinya, kebenaran atau Tuhan itu sendiri.

Tasawuf telah banyak didefinisikan dalam banyak deskripsi atau gambaran. Beberapa sufi menggambarkan tasawuf sebagai ‘pemusnahan’ seseorang beserta ke-aku-an (ego) dan kecongkakannya.

Atau dengan kata lain ‘penghancuran’ atas diri seseorang, berkenaan dengan kehendak ego-nya, lalu menggantikannya dengan kehendak-kehendak kekasihnya, Sang Wujud.

Pendekatan lain atas pengertian Tasawuf adalah : perjuangan terus-menerus untuk membersihkan semua jenis aksioma buruk dan jahat, lalu menggantikannya dengan kebaikan dan kebajikan.

Ada juga beberapa deskripsi yang melukiskan tasawuf sebagai ‘melihat segala sesuatu dan peristiwa-peristiwa di balik realitas luar (eksternal), lalu mengintepretasikannya bahwa segala yang terjadi (di dunia ini) senantiasa berhubungan dan berada dalam pengawasan serta tindakan-tindakan Tuhan Yang Mahakuasa.

Atau memandang setiap tindakan-Nya sebagai sebuah jendela untuk ‘melihat’ Dia; atau ‘menghidupkan’ kehidupan seseorang yang telah berupaya tak henti-hentinya untuk memandang atau melihat-Nya dengan sebuah kedalaman, yaitu ‘penglihatan’ spiritual yang tak terlukiskan dalam term-term fisik.

atau dengan kata lain, sebuah kehidupan dengan kesadaran bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan-Nya.

Allah SwT berfirman, ”Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (ayat-ayat) Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu adalah al-Haq. Belum cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS Fushshilat [41] : 53)

Semua definisi-definisi tentang tasawuf, mungkin bisa diringkas dengan : ‘Menjadi terbebaskan dari sifat buruk dan kelemahan alami manusia dan menyerap kualitas-kualitas malaikat dan semua tindakan yang dicintai Tuhan, sehingga benar-benar menghidupkan ‘kehidupan’ seseorang dengan pengetahuan dan kecintaan kepada-Nya dan akhirnya memperoleh kebahagiaan ruhani yang datang kemudian.

Tasawuf didasarkan pada pengamatan dan pengamalan atas syari’at hingga ke penerapan akhlak-akhlak mulia yang didorong oleh pemahaman batiniah atas ajaran-ajaran kearifan para guru sufi.

Keberhasilan maupun kegagalan sang pejalan ruhani (salik) bergantung dari keteguhannya dalam menjalankan prinsip-prinsip syari’at yang merupakan dasar kedua setelah iman.

Sufi sejati tidak pernah memisahkan dimensi lahir (syari’at) dari dimensi batin, karena keduanya memiliki hubungan yang tak terpisahkan seperti hubungan jasad dan ruh; keduanya sama pentingnya.

Melalui keduanya (syari’at dan ma’rifat), sang salik menempuh jalan (thariqat) untuk mencapai tujuannya dengan KERENDAHAN HATI (kepada sesama manusia) dan KETAATAN (kepada sang Khaliq).

Tasawuf juga merupakan jalan (cara) untuk membimbing sang salik mengenal (ma’rifat) sang Khaliq dan menuntut kekhidmatan (kesungguhan) sang salik dalam menjalankan berbagai latihan-latihan (riyadhah) yang menjadi syarat untuk memperoleh cinta dan ridha-Nya.

Tiada satu ruang pun baginya untuk berlaku lalai maupun bertindak sembrono tanpa bimbingan dari sang guru (mursyid-syekh-murad) yang telah disesuaikan dengan karakter, kemampuan dan kualitas masing-masing murid.

Sang salik mesti melakukan usaha keras (jihad) melawan hawa nafsu dan egonya di dalam latihan-latihan ini, seperti seekor lebah yang pergi dari sarangnya menuju bebungaan demi mengisap madu dan kembali meletakkan madu ke sarangnya, lalu kembali lagi ke bunga-bunga untuk kembali mengisap madu.

Begitu pula yang dilakukan sang salik secara kontinyu tanpa mengenal lelah dan jemu sampai akhirnya Tuhan menganugerahinya kearifan dan pemahaman dari sisi-Nya.

Bagi para Sufi, hidup ini, merupakan latihan yang paling nyata. Oleh karena itu, mereka menjalani kehidupan ini sama khidmatnya dengan melakukan latihan-latihan ‘formalnya’.

Riyadhah

Seorang pejalan ruhani mesti menyingkirkan semua yang mengganggu konsentrasinya di dalam ‘pencarian’ akan Tuhannya dan menentang semua kecenderungan, hasrat, dan nafsu jasmaninya yang akan mengganggu perjalanannya menuju sang Khaliq.

Dia juga mesti membawa hidupnya pada tingkatan ruhani dengan suatu kesiapan untuk menerima rahmat, berkah dan ilham-ilham dari-Nya, dengan cara menerapkan disiplin ketaatan yang keras.

Jangan sekali-kali membayangkan bahwa sang salik dapat memperoleh semua itu tanpa kerja keras (jihad).

Allah SwT berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad (berupaya keras) di jalan Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (muhsinin)” (QS Al-Ankabut [29] : 69)

Mereka yang berupaya keras di jalan Allah, benar-benar akan Allah bimbing sehingga mereka sampai di tujuan. “Dan orang-orang yang telah memperoleh petunjuk, Allah tambah petunjuk bagi mereka” (QS 47 : 17)

Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang muhsin, Allah akan menyertakan bagi mereka yang berjihad pertolongan (al-nashrah) dan bantuan (al-ma’unah)-Nya. Karena bagaimana pun, jihad membutuhkan kedua hal tersebut (al-nashr dan al-ma’unah-Nya). (‘Allamah Thabthaba’i, Tafsir al-Mizan 16 : 158, baris ke 13)

Sang salik harus dengan tulus dan sungguh-sungguh mengakui kecintaan, ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan sebagai rasa syukur dan pengabdiannya yang besar. Ia mesti menanggalkan keinginan-keinginan personalnya demi memenuhi semua kehendak Tuhan Yang Mahabenar.

Jalan Sufi
Tasawuf mensyaratkan ketaatan yang sempurna dari kewajiban-kewajiban agama sebagai pola hidup, dan menolak hasrat-hasrat hewani.

Tujuan tasawuf adalah menyucikan jiwa, hati dan menggunakan perasaan, pikiran dan semua fakultas yang dimiliki sang salik untuk tetap berada pada jalan Sang Kekasih, Tuhan Semesta Alam, untuk hidup berlandaskan ruhani.

Tasawuf juga memungkinkan seseorang melalui amalan-amalan yang istiqamah (konsisten & kontinyu) dalam pengabdian kepada Tuhan, memperdalam kesadarannya dalam pelayanan dan pengabdiannya kepada Tuhan.

Ini memungkinkannya untuk ‘meninggalkan’ dunia ini, yang hanya merupakan tempat singgahnya yang sementara. Sang salik mesti menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini hanya tempat ia menumpang, dan bukan tempat menetap atau tujuannya.

Ia mesti berjaga-jaga agar tidak terjebak oleh keindahan lahir dunia yang telah menghancurkan banyak kehidupan manusia. Dunia lahir ini telah banyak menarik hasrat, nafsu dan khayalan manusia sehingga mereka lupa dan lalai dari tujuannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang mereka itu lalai dari ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Yunus [10] : 7-8)

Orang-orang yang tidak berharap berjumpa dengan Tuhannya, pada hakikatnya mengingkari Hari Akhir, karena mereka menganggap kematian merupakan akhir dari segalanya.

Mereka yang tidak meyakini adanya Kehidupan Akhirat dan beranggapan bahwa tiada kehidupan setelah kematian, sehingga mereka merasa tenang dan tentram dengan kehidupan yang sekarang. Mereka menganggap bahwa kesenangan dan kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan merupakan kesenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan tentu saja karena semua anggapan yang keliru itu, mereka pun tidak tertarik untuk memikirkan ayat-ayat Tuhannya. (qitori.wordpress.com)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Catatan Kaki :
Ayatullah Muhammad Husain Fadlullah, Tafsir Min Wahyi al-Qur’an, Jil. 11, baris 12, Dar al-Zahra Li al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’, Cet. III, Beirut